Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

Picture-2-2dw2nrw

1)        Pengertian Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

Menurut Isjoni (2009: 14) pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah peserta didik sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dan belajar dikatakan belum selesai jika masih terdapat anggota kelompok yangbelum menguasai bahan pelajaran.

Menurut Smith dan MacGregor dalam Siti Mutamimah mendefinisikan cooperative learning sebagai “themost carefully structured end of the collaborative learning contiunuum

Menurut Sugiyanto (2009:37) pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil peserta didik untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Olesgan dan Kagan dalam Isjoni (2009:29) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif menawarkan tiga ketentuan utama yang berhubungan dengan:

1)        Memberikan pengayaan srtuktur nteraksi antara peserta didik.

2)        Berhubungan dengan ruang lingkup pokok pembelajaran dan kebutuhan pengembangan bahasa dalam kerangka organisasi.

3)        Meningkatkan kesempatan-kesempatan bagi individu untuk menyebutkan saran-saran.

Model pembelajaran ini memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan, secara penuh dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis. Peserta didik bukan lagi sebagai objek pembelajaran, namun bisa juga sebagai tutor bagi teman sebayanya. Pembelajaran koopertif memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan sesama peserta didik dalam tugas-tugas yang terstruktur. Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan belajar yang lebih luas kepada peserta didik dengan suasana yang kondusif. Hal ini karena dalam pembelajaran kooperatif peserta didik tidak hanya menerima pelajaran dari guru, tetapi juga belajar dari peserta didik lainnya serta mempunyai kesempatan untuk membelajarkan peserta didik lainnya.

Pembelajaran koopertif merupakan sistem kerja kelompok. Akan tetapi, tidak semua kerja kelompok merupakan pembelajaran kooperatif. Bennet dalam Isjoni menyatakan ada lima unsur dasar yang dapat membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu :

1)        Positive interdependence

Yaitu hubungan timbal balik yang didasari adanya kepentingan yang sama atau perasaan antara anggota kelpompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain atau sebaliknya.

2)        Interaction face to faceI

Yaitu interaksi yang langsung terjadi antar peserta didik tanpa adanya perantara.

3)        Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pembelajaran dalam anggota kelompok.

4)        Membutuhkan keluwesan.

5)        Meningkatkan ketrampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah.

Menurut Slavin dalam Jurnal Kependidikan Dasar (2006:75) Belajar kooperatif sesuai dengan paradigma bahwa disamping sebagai makhluk individual, manusia juga adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri, namun selalu membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Jelasnya belajar kooperatif tidak hanya bertujuan memahamkan peserta didik terhadap materi yang akan dipelajari namun lebih menekankan pada melatih peserta didik untuk mempunyai kemampuan sosial, yaitu kemampuan untuk saling bekerjasama, saling memahami, saling berbagi informasi, saling membantu antar teman kelompok, dan bertanggung jawab terhadap sesama teman kelompok untuk mencapai tujuan umum kelompok. Di dalam belajar kooperatif tidak hanya dituntut keberhasilan individu namun juga keberhasilan kelompok. Dari pemikiran itulah dalam belajar kooperatif, peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis, dan kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam  mencapai tujuan bersama.

2)        Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Menurut Sugiyanto (2009:40) ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah :

a)  Saling ketergantungan positif

Saling ketergantungan dapat dicapai memalui saling ketergantungan mencapai tujuan, saling ketergantunan menyelesaikan tugas, saling ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan peran dan saling ketergantungan hadiah.

b) Interaksi tatap muka

Interaksi tatap muka akan memaksa peserta didik untuk saling tatap muka dalam kelompok sehingga terjadi suatu dialog.

c)  Akuntabilitas individual

Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggota kelompok, karena itu setiap anggota kelompok harus memberikan sumbangan untuk kemajuan kelompok. Penialaian tersebut dimaksudkan untuk akuntabilitas individual.

d) Ketrampilan menjaga hubungan antar pribadi

Peserta didik yang tidak mampu menjalin hubungan antar pribadi akan mendapat teguran dari guru juga dari sesama peserta didik.

3)        Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Terdapat enam  langkah utama dalam pembelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif yang disebutkan oleh Trianto.

Tabel 1. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Fase

Tingkah laku Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi peserta didik
Fase 2

Menyajikan informasi

guru menyajikan informasi kepada peserta didik dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada peserta didik bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atua masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja
Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

4) Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Pembelajaran Tradisional

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran tradisoanal yang juga sering dilakukan kelompok belajar.

Tabel 2. Perbedaan antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional

Kelompok belajar kooperatif

Kelompok belajar tradisional

Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif Guru sering membiarkan peserta didik yang mendominasi kelompok maupun yang hanya menggantungkan diri
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran setiap anggota kelompok. Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas sering diborong oleh salah satu anggota kelompok
Kelompok belajar heterogen Kelompok belajar biasanya homogen
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok Pemimpin kelompok sering ditentuka oleh guru
Diperlukan ketrampilan sosial dalam kerja gotong royong Ketrampilan sosial sering tidak diajarkan secara langsung
Guru terus melakukan pemantauannmelalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok Pemantuan melaluoi observasi dan interverensi sering dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompom sedang berlangsung
Guru memperhatikan secara langsung proses yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam setiap kelompok belajar
Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi pada hubungan interpersonal juga Penekanan sering pada penyelesaian tugas saja

5)        Manfaat Pembelajaran Kooperatif

Ada banyak nilai pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah ;

a)  Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial

b) Memungkinkan para peserta didik saling belajar mengenai sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan.

c)  Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial

d) Memungkinan terbentuk dan berkembangan nilai-nilai sosial dan komitmen

e)  Menghilangkan sifat memetingkan diri sendri atau egois

f)   Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa

g)  Berbagai ketrampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan  saling membutuhkan

dapat diajarkan dan dipraktekkan

h)  Meningkatkan rasa saling percya sesama manusia

i)    Meningkatkan kemampuan memandang msalah dan situasi dari berbagai perspektif

j)   Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik

k) Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama dan orientasi tugas.

6)         Beberap model pembelajaran kooperatif

Beberapa model pembelajaran kooperatif antara lain yaitu :

a)      Model TTW (Think-Talk-Write)

b)      Model STAD (Student Teams Achievement Divisions)

c)      Model jigsaw

d)      Model GI (Group Investigation)

e)      Model struktural

f)        Model TPS (Think_Pair Share) atau (Think-Pair-Square)

g)      Model NHT (Numbered Heads Together)

h)      Model TS-TS (Two Stay Two Stray)

i)        Model Make a Match

j)        Model Listening Team

k)      Model Inside-Outside Circle

l)        Model Bamboo Dancing

m)    Model Point-Counter-Point

n)     Model The Power of Two

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s