MODEL PEMBELAJARAN

Danbo

Hakikat mengajar menurut Joyce dan Weil dalam Sugiyanto (2009) adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Tujuan jangka panjang pembelajaran adalah membanut peserta didik mencapai kemampuan secara optimal untuk dapat belajar lebih mudah dan efektif di masa mendatang. Untuk mencapai hal tersebut perlu kerangka pembelajaran secara konseptual yangmenentukan tercapainya tujuan pembelajaran.

Menurut Winataputra dalam Sugiyanto (2009), model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Menurut Mulyati Arifin (2005), model pembelajaran merupakan suatu cara mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan teori-teori pembelajaran untuk menciptakan situasi belajar yang efektif.

Menurut Eli Rohaeti (2010), model pembelajaran adalah suatu pola yang dapat menerangkan proses, menyebutkan dan menghasilkan lingkungan belajar tertentu sehingga peserta didik dapat berinteraksi yang selanjutnya berakibat terjadinya perubahan tingkah laku peserta didik secara khusus. Model pembelajaran dapat berorientasi pada interaksi sosial, pemrosesan informasi, pengembangan kepribadian dan modifikasi tingkah laku.

1)      Model pembelajaran berorientasi pada interaksi tingkah laku

Model ini menekankan pada hubungan antar manusia untuk menumbuhkan hubungan yang demokratis dan meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap lingkungan dan masyarakat.

2)      Model pembelajaran berorientasi pada pengembangan kepribadian

Model ini berorientasi pada pengembangan kepribadian seseorang dan diarahkan pada pemahaman diri.

3)      Model pembelajaran berorientasi pada modifikasi tingkah laku

Model ini berorientasi pada usaha menciptakan kondisi terjadinya kegiatan belajar yang efisien dengan cara memberikan penguatan untuk pembentukan perilaku tertentu. Dalam penggunaannya, model ini tidak digunakan secara murni, tetapi dikombinasikan dengan model yang lain secara bergantian.

4)      Model pembelajaran berorientasi pada pemrosesan informasi

Model ini menekankan pada peningkatan kemampuan peserta didik dalam memproses informasi. Peserta didik menangkap stimulus yang ada dan menyimpannya sebagai informasi yang bermakna bagi dirinya dalam memori jangka pendek dan jangka panjang, serta kemampuan menggunakan kembali informasi tersebut untuk kepentingan menyelesaikan suatu masalah.

Menurut Ahmad Abu Hamid (2009), terdapat 7 model pendekatan pembelajaran, yaitu :

1)      Pendekatan discovery dan inquiry

Pendekatan inkuiri adalah proses menemukan dan menyelidiki masalah-masalah, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan. Sedangkan pendekatan discovery adalah proses melakukan eksperimen dengan mengamati gejala alam atau fakta alam, mengumpulkan data melalui pengukuran, menarik kesimpulan, selanjutnya hasil eksperimen diterapkan dalam kehiduoan sehari-hari dengan membudidayakan sikap ilmiah.

Pendekatan inkuiri pada prisnsipnya adalah perluasan pendekatan discovery dalam hal kegiatan dan tingkat perkembangan mental peserta didik yang melakukan kegiatan.pendekatan inkuiri sudah menggunakan tingkatan perkembangan mental yang lebih tinggi dan lebih rumit dari pendekatan discovery.

2)      Pendekatan kontruktivisme

Pendekatan kontruktivisme menekankan pada pembinaan kepada peserta didik untuk menemukan atau membangun ilmu dan teknologi dengan kemampuan dirinya sendiri.

3)      Pendekatan kontekstual

Pendekatan kontekstual pada hakikatnya digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan aktual yang dihadapi peserta didik. Menurut Sugiyanto ( 2009) kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi nyata yang dihadapi oleh peserta didik. Menurut Eli Rohaeti (2010) pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama yaitu

a)        Kontruktivisme

b)        Inkuiri (menemukan)

c)         Bertanya (questioning)

d)       Masyarakat belajar (learning community)

e)        Pemodelan (modeling)

f)          Refleksi (reflection)

g)        Penilaian yang sebenarnya (autehentic assesment)

4)      Pendekatan salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat)

Menurut Eli Rohaeti (2010), pendekatan STM memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a)    Materi yang dikembangkan berkaitan dengan kurikulum IPA yang berlaku, memilki keterkaitan antara sains, teknologi dan masyarakat, mendorong pengemabangan ketrampilan inkuiri, berkaitan dengan kebutuhan peserta didik.

b)   Pembelajaran konstruktivistik

c)    Melalui tahap eksplorasi

d)   Ada masalah yang sesuai dengan materi dan perkembangan anak

5)      Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem Based Instruction)

Pendekatan pembelajaran berbasis masalah berdasarkan pada teori pemodelan tingkah laku, teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif. Selain itu  juga berdasarkan pandangan konstruktivis mengenai belajar atau disebut teori pemebelajaran, misalnya teori piaget, vygotsky dan teori burner.

6)      Pendekatan kooperatif

Menurut Lie dalam Sugiyanto (2009), pembelajaran kooperatif merupakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar.pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen terkait, yaitu saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan ketrampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau ketrampilan sosial yang secara sengaja diajarkan. Ada lima tahapan dalam pembelajaran kooperatif , yaitu:

a)        Mengklasifikasikan tujuan dan etlablishing set

b)        Mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar atau mempresentasikan informasi

c)         Membantu kerja kelompok belajar

d)       Mengujikan berbagai materi

e)        Memberikan pengakuan

7)      Pendekatan ketrampilan proses

Pembelajaran yang menggunakan pendekatan ketrampilan proses menekankan pada proses ilmiah, penguasaan konsep-konsep ilmiah, pembudayaan sikap ilmiah, dan komunikasi hasil yang diperoleh dari proses ilmiah.

Menurut Agus Suprijono (2009) ada berbagai model pembelajaran yang dapat digunakan pada proses pembelajaran, yaitu :

1)      Model pembelajaran langsung (direct instruction)

Model pembelajaran langsung disebut juga active teaching,guru terlibat aktif dalam menyampaikan isi pelajaran kepada peserta didik dan mengajarkannya secara langsung kepada seluruh kelas. Pembelajaran langsung dirancang untuk penguasaan pengetahuan prosedural, pengetahuan deklaratif, serta berbagai keterampilan. Ada 5 fase dalam pembelajaran langsung yaitu :

a)        Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik (Establishing Set).

b)        Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan (Demonstrating).

c)         Membimbing pelatihan (Guided Practice).

d)       Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik (Feed Back).

e)        Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjut dan penerapan (Extended Practice).

2)      Model pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berbasis sosial. Model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran kerja kelompok dengan diarahkan oleh guru. Guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan, serta menyediakan bahan-bahan dan informasi untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah.  Model pembelajaran kooperatif dapat menumbuhkan pembelajaran yang efektif.

3)      Model pembelajaran berbasis masalah

Model pembelajaran berbasis masalah menekankan pada aktivitas penyelidikan. Termasuk pembelajaran berbasis masalah adalah discovery learning dan inquiry learning yang merupakan pembelajaran beraksentuasi pada masalah-masalah kontekstual. Pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase yaitu :

a)        Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik

b)        Mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti

c)         Membantu investigasi mandiri dan kelompok

d)       Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit

e)        Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah

Hasil dari pembelajaran berbasis masalah adalah peserta didik memiliki keterampilan penyelidikan, keterampilan mengatasi masalah, dan dapat menjadi pembelajar yang mandiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s